Perusahaan Rela Bayar Hacker Demi Serang Sistem Sendiri

Pertahanan paling baik yaitu menyerang. Nampaknya perusahaan Amerika Serikat yakin, tersebut langkah paling baik untuk mengatasi permasalahan keamanan siber.

Adalah HackerOne, basis koordinasi kekurangan serta pencarian bug asal San Francisco. Mereka melaporkan, mereka mempunyai sekitaran 800 pelanggan perusahaan yang bersedia membayar kian lebih USD15 juta (Rp197, 2 miliar) berbentuk bonus pada white hat hacker mulai sejak ia didirikan pada 2012.

Beberapa besar hadiah duit itu dibayarkan dalam 2 th. paling akhir, bersamaan dengan meningkatnya kesadaran perusahaan bakal bahaya serangan siber, seperti yang dilaporkan oleh New York Post. Sebagian perusahaan yang memakai layanan HackerOne diantaranya General Motors, Uber, Twitter, Starbucks serta bahkan juga Departemen Pertahanan.

Menurut CEO HackerOne, Marten Mickos, perusahaan dari beragam industri lebih pilih untuk membayar hacker yang baik untuk mencari kekurangan pada system mereka dari pada menanti sampai ada hacker jahat yang menyerang.

Mickos mencontohkan Google, yang sudah membayar sekitaran USD3 juta (Rp40 miliar) lewat program hacker kepunyaannya sendiri untuk mencari kekurangan pada system mereka. Sesaat Uber sudah membayar USD860 ribu (Rp11, 3 miliar) sepanjang setahun terakhir untuk memakai basis HackerOne.

Makin banyak orang yang memakai piranti Internet of Things (IoT) juga tingkatkan keinginan bakal white hat hacker, tutur Mickos.

” Hacker yang baik begitu disukai, ” kata Adam Malon, Director of Cyber Investigation and Breach Response, PwC. Beberapa perusahaan juga mencari white hat hacker untuk dipekerjakan didalam perusahaan. Beberapa tuturnya, bisa membawa pulang upah 6 angka sampai 1/2 juta dollar AS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *